Kisah Pilu Hong Kong-Korea: Tabunganku Terkuras Sia-Sia

Hong Kong – Teknologi informasi jika tidak arif dan waspada dalam menggunakannya, berpotensi mendatangkan malapetaka. Kewaspadaan untuk selalu berjaga seringkali masih terkalahkan oleh siasat licik milik orang-orang tertentu yang memang dengan cara curang ingin mengeruk keuntungan pribadi dengan cara yang tidak syah. Rayuan manis dalam untaian janji janji yang belakangan hanyalah omong kosong belaka.

Aku mengenal YR dari sebuah situs jejaring sosial saat aku masih bekerja di Korea dan saat YR masih bekerja di Hong Kong. Perkenalan yang semula hanya sebatas teman biasa saja berlanjut dengan kerinduan-kerinduan yang mengikatku untuk selalu online bersama YR melalui aplikasi chatting. Kami hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan saja, sedangkan lama kelamaan kami menginginkan lebih dari itu dengan webcam.

Baca juga: Turis Indonesia Bebas Visa ke Korea

Semakin aku merasa mengenal YR, semakin yakin aku untuk memutuskan membangun komitmen untuk hidup bersama. Harapan ku rajut dengan segenap penyerahan diri buatnya. Hari-hari bekerja di Korea kulewati dengan penuh semangat akan kepastian hidup berumah tangga. Setiap malam menjelang tidur, telepon, chat, hingga webcam-an selalu menjadi teman pengantar tidur hingga kami sama-sama terbuai dalam mimpi. Kedekatan diantara kami sudah layaknya pasangan suami istri. Diantara kami sudah saling mengetahui lekuk tubuh masing-masing melalui webcam.

Aku semakin mantap akan memperistri YR sebab selain aku merasa cocok, kampung halaman YR kebetulan berdekatan dengan kampung halamanku. Aku yang lahir dan besar di kawasan Nganjuk sedangkan YR mengaku berasal dari sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Kediri yang berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk. Tentu hal ini akan mempermudah kedua orang tua kami untuk berurusan.

Selama aku di Korea dan YR masih di Hong Kong, banyak sekali rencana yang kami susun bersama, mulai dari membangun wirausaha hingga sekedar bualan-bualan kemesraan belaka. Suatu waktu, menjelang YR pulang ke Kediri untuk selamanya, dia menawarkan patungan membuka usaha jasa travel bandara dan usaha penyalur jasa tenaga kerja luar negeri. Untuk usaha travel, YR mengajak aku berpatungan membeli sebuah mobil seharga 110 juta rupiah sedangkan untuk memulai usaha sebagai penyalur jasa tenaga kerja, YR mengajak untuk membangun kantor kecil-kecilan guna mendirikan UP3CTKI dengan menumpang pada sebuah PJTKI. Menurut hitung-hitungan YR, kedua usaha tersebut memerlukan dana awal sebesar 250-an juta rupiah. YR mengaku hanya memiliki tabungan sebesar 80-an juta saja, dan dari tabungannya, dia hanya bisa menurunkan sebanyak 50-an juta, sebab yang 30-an juta akan dia gunakan untuk dana cadangan hidup sehari-hari di Indonesia selama belum memiliki pemasukan.

Baca juga: Tips Wisata Murah Meriah ke Korea

Karena menurutku sangat masuk akal, dan aku juga sudah percaya sepenuhnya pada YR, akupun mentransfer uang ke YR yang nilainya dalam rupiah sebanyak 200-an juta. Sebagian besar isi tabunganku sudah berpindah rekening ke sebuah rekening atas nama YR.

Seminggu pertama setelah YR pulang ke Indonesia, kami masih sempat berkomunikasi melalui telepon, namun memasuki minggu kedua hingga sekarang, YR menghilang entah ke mana. Bahkan saat aku pulang ke Nganjuk pun, aku melacak alamat yang YR pernah belikan, ternyata di kampung tersebut tidak ada yang namanya YR. Foto-foto keluarga yang pernah dia tunjukkan, saat aku gunakan sebagai pentunjuk mencari YR, ternyata foto orang lain. Mereka adalah keluarga salah seorang teman YR yang kini juga memiliki masalah yang sama denganku. YR berfoto dengan mereka saat YR berkunjung ke Kediri mengantar titipan saat YR cuti pulang. Kepada keluarga tersebut, YR mengaku berasal dari Banyuwangi.

Menyadari telah ditipu, aku terduduk lemas. Serasa tulang-tulangku dilolosi. Ingin marah, sakit hati, tapi orang yang membuatku marah dan sakit hati atas penipuan ini tak kuketahui dimana berada. Pernah aku melacak ke bank, mempertanyakan identitas dibalik rekening, pihak bank hanya bisa memberi tahu rekening itu dibuat di Hong Kong. Pernah juga aku melaporkan ke Polisi di Polres Nganjuk mengenai peristiwa ini, mereka menjawab pengaduanku dengan kalimat, “Kejahatan ini tidak terjadi di wilayah hukum polres Nganjuk, bahkan bukan di wilayah Hukum Indonesia.”

Kisahku ini mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran baik kepada teman-temanku yang kini sedang bekerja di Korea maupun saudara-saudaraku yang kini sedang bekerja di Hong Kong. Kita sama-sama memeras keringat, buang jauh-jauh itikat untuk saling memanfaatkan, apalagi menjerumuskan. Semoga bermanfaat bagi banyak orang.()

Sumber: ApaKabar