Gagal Jadi TKW, Aidah Justru Sukses Jadi Pengusaha Jamur

Aidah kini sukses menjadi pengusaha jamur.
Aidah kini sukses menjadi pengusaha jamur.

Cianjur – Menjadi seorang tenaga kerja wanita (TKW) tak selamanya menjadi pilihan terbaik. Mungkin itu yang dirasakan oleh Aidah Susilawati (44), seorang mantan TKW asal Kampung Sukamaju RT 03/04, Desa Cikondang, Kecamatan Bojongpicung yang memutuskan untuk kembali ke tanah air dan menjadi pengusaha jamur tiram di kampungnya.

Setelah sempat mengadu nasib ke Timur Tengah, ternyata bukannya keuntungan yang diraih oleh Aidah. Melainkan perlakukan yang tidak manusiawi diberikan oleh majikannya di perantauan itu. Selain tidak diberikan upah yang layak, dirinya juga mendapatkan perlakukan yang tidak pantas dari sang majikannya dulu.

Dengan pengalaman itu, dirinya memutuskan untuk kembali ke tanah air meskipun pulang tanpa hasil yang memuaskan. Tidak mau terbelenggu dengan pengalaman buruknya itu. Aidah mencoba untuk bangkit dengan mencoba usaha jamur tiram.

Aidah mengatakan dalam sehari jamur tiram yang berhasil dipanen rata-rata enam kilogram. Setiap harinya selalu datang pengepul yang membeli jamur dengan harga Rp 6 ribu perkilogramnya. Pengepul tersebut datang dari Pasar Ciranjang. Menurutnya hasil panen dari kelompok taninya hanya bisa memenuhi kebutuhan untuk Pasar Ciranjang saja. Bulan Ramadan kemarin menjadi berkah bagi merekam karena permintaan banyak dan stok barang sedikit maka harga jamur naik menjadi Rp 10 ribu perkilogramnya.

Kini usaha jamur tiramnya itu, sudah cukup berkembang. Bahkan, dirinya telah memiliki kelompok yang juga beranggotakan mantan TKW. “Awal mula didirikannya kelompok tani jamur tiram di kampung ini, karena adanya binaan dari Serikat Buruh Migran Indonesia. Pertama kali didirikan hasil panen lumayan banyak karena masih ada pendampingan. Soal pemasaran pun tak begitu sulit karena setiap hari pedagang pasar selalu datang. Tapi kini kondisinya sudah mulai turun,” kata Aidah.

Aidah menjelaskan, ­usahanya itu sempat merugi  karena jamur tiram gagal tumbuh setelah membeli bahan dengan modal yang tidak sedikit. Saat itu, sambung Aidah, ia bersama dengan rekannya mencoba mengembangkan agar le­bih banyak lagi jamur yang dihasilkan. Tapi malang, cuaca rupanya tak mendukung sehingga jamur yang diharapkan tak kunjung tumbuh.

“Untuk satu kumbung biasanya membeli 100 kilogram serbuk gergaji, 20 kilogram dedak, 6 kilogram tepung jagung, 2 kilogram kapur sirih, 6 kilogram  gypsum, dan 6 kilogram talsit. Semua bahan tersebut kemudian dicampur ditambahkan air dan tak terlalu kental. Perendaman dilakukan selama tiga hari di dalam sebuah drum,” jelasnya.

“Setelah tiga hari baru dikemas dalam sebuah plastik berukuran satu kilogram dan di atasnya ditaburkan bibit jamur, direbus dulu enam jam lalu ditiriskan dan disimpan di kumbung,” ­sambung Aidah.

Untuk satu kali modal penanaman jamur, diri­nya dapat menghabiskan sekitar Rp 500 ribu. Setelah satu bulan jamur mulai bisa dipanen. Satu kali penanaman bibit jamur bisa untuk tiga bulan. Setelah tiga bulan serbuk gergaji dan bahan lainnya dibuang lalu dibuat lagi dari awal.

“Alhamdulilah, hasil panen jamur setiap harinya bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari kendati harus membagi dengan kebutuhan pendidikan anak-anak. Adanya kegiatan bertani jamur ini, saya tak ingin lagi untuk pergi ke Timur Tengah,” ucapnya.()