Moon Jae-in, Dulu Anak Pengungsi Korut Kini Presiden Korsel

Jakarta – Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengadakan kunjungan kenegaraan tiga hari ke Indonesia. Seusai menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Seoul, Presiden Moon langsung bertolak ke Jakarta untuk menemui Presiden Joko Widodo.  Presiden Moon tiba sejak Rabu (8/11) malam dan akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Jokowi, hari ini, Kamis (9/11) di Istana Bogor.

Moon tengah gencar membangun hubungan baik dengan para pemimpin negara sahabat setelah ia menggantikan pendahulunya, Park Geun-hye, yang dimakzulkan karena skandal korupsi.

Moon pun memilih Indonesia sebagai negara pertama dari tiga negara  dalam lawatan kenegaraan pertama ke luar negeri sebagai Presiden Korea Selatan.  Indonesia menjadi negara  Asia Tenggara pertama yang ia kunjungi di tengah ketegangan Semenanjung Korea yang terus memanas karena ambisi nuklir Korea Utara. Presiden Korsel ke-12 itu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada Kamis (9/11).

Salah satu isu yang diperkirakan bakal menjadi topik pembicaraan adalah masalah nuklir Korea Utara. Ambisi negara tetangganya itu untuk memiliki rudal dan senjata nuklir disebut-sebut menjadi fokus Moon saat melakukan pertemuan bilateral dengan Jokowi. Pria 64 tahun itu dikabarkan ingin meminta Jokowi mendukung kebijakannya dalam menghadapi pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Baca juga: Tips Wisata Murah ke Korea

Meski begitu, Moon yang memenangkan pemilihan presiden Korea Selatan tahun ini dengan platform lebih bersahabat dengan Korea Utara, berbeda dengan pemerintahan pendahulunya, mantan Presiden Park Geun-hye.

Presiden Park bersikap lebih keras dengan menekankan sanksi dan embargo untuk membungkam ambisi senjata Kim Jong Un. Moon ingin mengubah itu.

Setelah memenangkan pemilihan umum pada Mei lalu, dia bertekad ingin menyelesaikan cekcok antara Korea Selatan dan Korea Utara melalui dialog, meski sanksi juga tetap diterapkan.

Moon percaya kesuksesan pemerintahnya untuk rujuk dengan rezim Korut bergantung pada komunikasi antara kedua belah pihak.

“Saya percaya, dialog adalah cara untuk menyatukan Korea dan menyembuhkan luka rakyat,” kata dia.

Baca juga: Indonesia Bebas Visa Korea 2018

Pendirian Moon terhadap Pyongyang yang dinilai lebih bersahabat itu pun tak lepas dari riwayatnya sebagai anak dari pengungsi Korea Utara. Kedua orang tua Moon melarikan diri dari Korea Utara saat Perang Korea pecah sekitar 1950-1953.

“Kedua orang tua saya kabur dari Korea Utara karena membenci rezim komunis negara itu. Mereka melarikan diri untuk mencari kebebasan dan datang ke Korea Selatan,” kata Moon beberapa waktu lalu.

“Kedua orang tua saya selalu rindu untuk kembali bersatu bersama keluarga mereka di Korea Utara. Namun, mereka tidak pernah bisa mewujudkan mimpinya itu,” paparnya menambahkan.

Moon lahir di Pulau Geoje pada 1953 lalu sebelum keluarganya menetap di selatan kota Busan. Sebagai mahasiswa jurusan hukum, Moon pernah ditahan karena ikut berdemo melawan kediktaktoran Presiden Park Chung-hee, ayah Geun-hye, pada 1970 lalu.

Setelah lulus, Moon berkiprah menjadi seorang pengacara HAM yang berupaya memperjuangkan hak buruh dan demokrasi. Saat Roh Moo-hyun, sahabat baiknya, menjadi Presiden pada 2003 lalu, ia diangkat menjadi Kepala Staf Kepresidenan.

Ia keluar dari jajaran pemerintahan pada 2008. Tak lama dari situ, ia kembali aktif berpolitik setelah Roh terjerat tuduhan korupsi dan akhirnya bunuh diri pada 2009.

Moon sempat mencalonkan diri dalam pemilu 2012 lalu, namun kalah suara oleh Geun-hye. Moon baru bisa duduk di jabatan nomor satu di Negeri Ginseng itu setelah memenangkan pemilihan umum Mei lalu.

Moon mengatakan dirinya bertekad menjadi seorang presiden yang bisa membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Korea.

“Presiden yang bisa membawa negara mencapai demokrasi sebenarnya, presiden yang mampu membangun hubungan damai antara Korea Utara dan Korea Selatan, presiden yang bisa membawa negara mencapai ekonomi yang lebih adil dan setara. Saya ingin bisa diingat seperti itu,” kata dia.()

Sumber: CNN Indonesia