Potongan Gaji yang Mencekik TKI Hongkong

Ilustrasi potongan. Foto: SuratKabar.
Ilustrasi potongan. Foto: SuratKabar.

Hongkong – Lagi, baru-baru ini buruh migran atau yang kita kenal dengan sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali menderita akibat kasus tarif agen yang tinggi mencapai 40 juta per orang. Pungutan ini sangat mencekik leher para TKI karena dibayar melalui pemotongan upah TKI sampai 9 bulan lamanya. Masalah ini ditemui pada buruh migran Hongkong.

Data kasus yang dialami oleh TKI di Hongkong selama dua tahun terakhir mencapai 215 kasus sedangkan data kasus keseluruhan para buruh migran adalah 1.501, hal tersebut dikemukakan oleh Hariyanto, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

Hariyanto pada konferensi pers, Senin (1/5/2017) kembali menambahkan bahwa 93 persen dari 215 permasalahan tersebut adalah kasus pelanggaran perjanjian penempatan sehingga para TKI mengalami pembebanan biaya yang tinggi (overcharging).

Hariyanto mengatakan bahwa Upah minimum yang diperoleh oleh TKO Hongkong adalah sebesar 4.300 dolar atau setara dengan Rp 7,31 juta perbulan (dengan asumsi kurs dolar hongkong Rp.1.713). Sementara itu para TKI harus membayar sekitar Rp 30 juta – Rp 40 juta per orang ke agensi di Hongkong atau Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS). Faktanya, dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja untuk TKI Hongkong, tarif yang diberlakukan adalah sekitar 14,5 juta dan bagi yang telah bekerja di Hongkong dikenakan tarif Rp 9 Juta. Hal ini disebabkan mereka yang telah bekerja tidak perlu mengikuti pendidikan dan pelatihan lagi.

Baca juga: Tembus Hongkong, Nasi Tiwul Ini Ternyata Milik Eks Pahlawan Devisa

“Namun apa yang dipraktikkan sangat berbeda, mereka tetap terkena overcharging sebesar Rp 30 juta-Rp 40 juta untuk semua TKI baik TKI yang sudah pernah maupun yang belum pernah bekerja di Hong Kong. Biaya tersebut di gunakan untuk biaya pendidikan, medical check up, hak tinggal selama di penampungan, dan lainnya,” ujar Hariyanto.

Bebas yang besar itu membuat para TKI harus rela mendapatkan potongan lumayan besar dalam rentang waktu 6 bulan-9 bulan oleh agensi TKI di Hongkong atau PPTKIS.

Hariyanto kembali menjelaskan bahwa upah 4.300 dolar Hong Kong yang diperoleh dipotong sebesar 900-1.300 dolar Hong Kong lalu dikalikan 6-9 bulan. Namun faktanya kebanyakan dipotong sampai 1.500 dolar Hong Kong.

 

Nursalim mengaku sepanjang 2016, data pengaduan terbanyak datang dari buruh migran di Hong Kong yaitu sebanyak 22 kasus. Dalam kurun waktu 2011-2016 jumlah kasus mencapai 211.

“Gaji tidak dibayar, PHK sepihak, dan overcharging adalah kasus yang paling banyak,” Kata Nursalim.()

Sumber: Liputan6